Seperti judul inilah jawaban yang kuterima dalam sebuah bahasan, dalam sebuah ajakan, dalam sebuah anjuran, dalam sebuah larangan, dalam sebuah perintah, dalam rangka amar makruf nahyi munkar.
Dua poin yang ingin dibahas pada kali ini mengenai amar makruf nahyi munkar dan muhasabah bin nafsi.
Seorang muslim pasti tahu mengenai amar makruf nahyi munkar, bahkan mungkin ketika SD, ketika masih kecil telah dikenalkan dengan istilah ini. Yakni mengajak kepada hal yang makruf (baik) dan mencegah pada hal yang munkar (buruk). Karena hal ini merupakan sebuah kewajiban terhadap semua umat muslim, bukan hanya para ustadz, para kiayi, para guru agama, para pementor, para aktivis dakwah, tapi ini dimiliki oleh semua jiwa dan diri umat muslim. Inilah islam, inilah ad Din, inilah nasehat. Dengan kacamata islam ini, maka pandangan kita akan mengintruksikan sesuatu baik itu tindakan untuk melarang atau tindakan untuk mengajak, ketika kita melihat suatu perbuatan dari luar diri kita. Saat kita melihat orang islam yang acuh terhadap keislamannya yang hanya sekedar KTP, maka kita memberinya nasehat dengan mengenalkan islam yang sesungguhnya, yakni sebuah pandangan hidup. Dan ketika kita melihat seorang aktivis dakwah yang masih ragu untuk memperjuangkan islam, maka kita jelaskan bahwa islam adalah rahmat untuk seluruh alam, termasuk semua umat manusia, termasuk dalam sebuah kampus. Dan jika kita melihat sebuah perbuatan yang menghina islam, menuduh islam, dan yang memperjuangkannya adalah ekstrimis atau calon teroris, kita mencegah kemunkaran tersebut dan menjelaskannya kembali tentang islam. karena seorang muslim sudah seharusnya untuk yakin dengan islam, yakin dengan segala hukum islam, yakin dengan kebenaran islam hingga tidak ada keraguan didalamnya. Dan islam merupakan sebuah pandangan hidup, dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali, maka islam lahir sebagai solusi hidup kita, tanpa keraguan, tanpa memilih-milih, tanpa ada solusi lain selain islam.
Poin kedua dari catatan ini adalah muhasabah bin nafsi. Atau instropeksi diri. Hal ini mesti senantiasa dilakukan oleh seorang muslim, dari mulai ia mengerti hingga ajal menjemputnya. Karena ada poin penting yang melandasi hal ini, yakni bahwa manusia tidak akan terlepas dari sikap salah dan lupa, begitulah sebuah hadits menjelaskannya, kemudian dilanjutkan dengan kalimat bahwa sebaik-baiknya manusia adalah orang selalu bertobat dengan sebenar-benarnya. Hal ini jelas membuktikan bahwa kita tidak akan berhenti untuk bermuhasabah. Karena arti dari sebuah tobat adalah perubahan diri sendiri untuk menjadi lebih baik dihadapan Allah SWT. Selain itu muhasabah pun merupakan jalan untuk menaikan derajat kita dihadapan Allah SWT. Orang yang tak mau untuk bermuhasabah adalah orang yang statis atau stagnan bahkan kemungkinan besar ia merosot kedalam jurang dunia, dengan menganggap bahwa yang selalu ia lakukan bukanlah sebuah kesalahan, bukan sebuah kemaksiatan, bukan sebuah perbuatan yang tercela.
Tapi dari poin kedua ini tidak menyimpulkan bahwa “antum jangan dulu beramar makruf nahyi munkar, lebih baik bermuhasabah dulu” statement ini pula yang merangsang saya untuk menulis sebuah catatan ini. Atau mungkin statement-statement lainnya yang serupa dan tak beda, baik dengan kata yang lebih halus atau lebih abu-abu. Tapi jelas intinya seperti itu.
Beri waktu pada logika dan pada hati kecil
Bahwa hal ini perlu dipahami dan perlu disadari, dua poin diatas yakni amar makruf nahyi munkar dengan muhasabah bin nafsi adalah dua kewajiban yang berbeda. Dan dari keduanya tidak bisa saling menafyikan. Jika kita melaksanakan salah satu maka kita lepas dari satu kewajiban tapi masih tetap dalam satu tuntutan kewajiban yang lainnya. Kesimpulan terakhir bahwa mari kita merubah dunia, merubah umat manusia, merubah kampus, merubah masyarakat terkecil dari kita dengan beramar makruf nahyi munkar. Dan mari kita senantiasa untuk merubah diri kita dengan muhasabah bin nafsi.
Rasakan keindahan ISLAM jika kedua poin tadi dibangun dalam sebuah kehidupan, untuk melanjutkan kehidupan ISLAM.
0 komentar:
Post a Comment
terima